PELIPUTAN DAN REPORTASE TELEVISI DI LOKASI BENCANA: SEBUAH PENGALAMAN DARI ERUPSI MERAPI 2010

Tri Hastuti Nur Rochimah, Fajar Junaedi

Abstract


Bencana erupsi Gunung Merapi tahun 2010 telah memberikan pelajaran berharga dalam peliputan dan reportase jurnalistik di televisi. Informasi melalui televisi mengenai perkembangan yang terjadi dalam erupsi Gunung Merapi banyak dimanfaatkan oleh publik, baik yang terkena dampak langsung maupun tidak. Posisi Indonesia sebagai negara yang rentan dengan bencana, terutama karena letak geologi Indonesia yang berada di cincin api (ring of fire) sehingga bencana alam menjadi siklus yang tidak terelakkan. Hal ini menjadikan kajian tentang strategi komunikasi bencana dalam praktik jurnalisme penyiaran televisi menjadi relevan untuk dilakukan. Paper ini adalah hasil penelitian yang berusaha mengeksplorasi mengenai standar kompetensi jurnalis di lokasi bencana dan bagaimana model jurnalisme sensitif bencana dengan berdasarkan pada pengalaman jurnalis yang meliput erupsi Gunung Merapi tahun 2010. Temuan penelitian ini mengenai hak tersebut di atas adalah sebagai berikut, pertama praktik jurnalisme, terutama jurnalisme penyiaran televisi, di lokasi bencana memiliki kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pada peristiwa-peristiwa lain. Kedua, jurnalis yang diterjunkan ke lokasi bencana harus memiliki kompetensi dasar jurnalistik dan kompetensi pengetahuan tentang apa bencana yang terjadi. Kompetensi kebencanaan ini bukan hanya aspek ilmiah kebencanaan, namun juga kearifan lokal mengenai bencana yang terjadi serta penguasaan medan yang terkena dampak bencana. Ketiga, kerja sama dalam tim liputan menjadi aspek penting dalam jurnalisme di lokasi bencana. Kerja sama ini semakin penting tatkala reportase dilakukan secara langsung. Keempat, jurnalis yang melakukan reportase harus menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian dalam reportase agar informasi yang disampaikan tidak menimbulkan implikasi kepanikan bagi warga yang terkena dampak bencana. Terakhir, model peliputan dan reportase bencana yang baik adalah dengan melibatkan jurnalis yang berada di biro terdekat dengan lokasi bencana karena lebih menguasai medan liputan serta lebih memiliki akses pada otoritas yang berwenang di sekitar lokasi bencana.

Merapi Mount eruption in 2010 has given a valuable lesson in the journalistic reportage in the television. Information through television about the expansion happened in the mount eruption have been largely used by the public, both the impacted ones and not. The position of Indonesia which is vulnerable towards disaster, especially because its geological position which is located in the ring of fire so that natural disaster becomes an inevitable cycle, has made the study of disaster communication strategy in television broadcasting journalism practice becomes relevant to carry on. This paper contains research output which tried to explore the competency standard of the journalists in the disaster area and how is the journalism model of sensitive disaster based on the journalists experience who cover the Merapi Mount eruption in 2010. The findings of this research in regards of the rights mentioned above are first, the journalism practice, particularly television broadcasting, had higher obstacles in the disaster area compared to other occasions. Second, the journalists who are sent to the disaster area should have a basic competency of journalism and knowledge competence about the disaster occurred. Disaster competence is not only a scientific disaster aspect, but also local wisdom concerning the disaster and yet the impacted domain controls. Third, teamwork becomes a significant aspect of the journalism in the disaster area. This teamwork becomes more important when the reporting is performed live. Fourth, the reporting journalists need to uphold the circumspection principle in the reportage in order the information that is delivered does not generate any panic implication to the people affected by the disaster. Last but not least, a best pervasion and reportage model of disaster is to involve the journalists in the bureau near the disaster area since they are more mastering the reporting domain and also having access to the authority around the location.


Keywords


disaster, journalist, television, ethics, bencana, jurnalis, televisi, etika

References


Arif, Ahmad (2010). Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme. Jakarta: KPG.

Arif, Ahmad. (2011). Jurnalisme Bencana: Tugas Suci, Praktik Cemar, dalam Budi, Setio [ed]. Komunikasi Bencana. Yogyakarta: Aspikom dan Mata Litera.

Budi, Setio HH. (2011). Pentingnya Komunikasi Bencana. Dalam Junaedi, Fajar; Puspita, Adi; Oktaviana, Risa [ed]. Sensasi Vulgar Komunikasi Bencana. Yogyakarta: Lingkar Media.

Badri, M. (2011). Paradigma Jurnalisme Bencana. Dalam Budi, Setio [ed]. Komunikasi Bencana. Yogyakarta: Aspikom dan Mata Litera.

Biagi, Shirley (2005). Media/Impact: An Introduction to Mass Media, 7th Edition. Belmont: Thomson Wadsworth.

Creswell, J.W. (1998). Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing among Five Designs. Thousand Oaks, CA: Sage.

Irawan, Prasetya (2006). Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: DIA FISIP UI.

Lindlof, Thomas R dan Taylor, Brian C. (2002). Qualitative Communication Research Methods, 2nd Edition. London: Sage Publication.

Morrisan (2004). Jurnalistik Televisi Mutakhir. Bogor: Ghalia Indonesia.

Haddow, George D., and Kim S. Haddow (2009). Disaster Communication in the Changing of Media World. Oxford: Butterworth-Heinemann.

McQuail, Dennis (2009). McQuail’s Mass Communication Theory, 6th Edition. London: Sage Publications.

Neuman, Lawrence (2000). Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches, 4th Edition. Boston: Allyn and Bacon.

Reardon, Nancy (2009). On Camera: Menjadi Jurnalis TV Andal dan Profesional. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Shoemaker, Pamela J., and Stephen D. Reese (1996). Mediating the Message: Theories of Influences on Mass Media Content. New York: Longman.

Straubhar, Joseph, and Robert LaRose (2006). Media Now: Understanding Media, Culture and Technology. Belmont: Thomson Wadsworth.

Sutopo, HB. (2000). Metode Penelitian Sosial Kualitatif. Solo: UNS Pers.

Yin, Robert K. (2002). Studi Kasus: Desain dan Metode. Jakarta: Rajawali Press.


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Indexed and Abstracted by:

http://journal.bakrie.ac.id/public/site/images/admin/googlescholar_logo_120 http://journal.bakrie.ac.id/public/site/images/admin/logogaruda_94